Bendera Aceh Selimuti DPRA


Selasa, 2 April 2013 11:23 WIB

BANDA ACEH – Massa dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, Senin (1/4) tumpah ruah ke Banda Aceh sambil berkonvoi dan mengarak bendera Aceh. Massa dalam jumlah besar membentangkan bendera Bintang Bulan raksasa berukuran 16,4 x 6,4 meter di Gedung DPRA sehingga terlihat seperti menyelimuti gedung wakil rakyat tersebut.

Amatan Serambi, sekitar pukul 06.00 WIB, massa laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak sudah mulai berkumpul di depan Masjid Raya Baiturrahman. Mereka datang dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Mereka bergerak secara bergelombang menggunakan mobil pikap, L-300, truk, bahkan tak sedikit dengan sepeda motor. Rata-rata mengarak bendera Aceh pada kendaraan. Polisi menutup jalan di titik berkumpulnya massa sebelah timur dan utara masjid raya, kecuali untuk rombongan massa.

Kira-kira pukul 10.20 WIB, di bawah pengamanan polisi, massa bergerak dari depan Masjid Raya Baiturrahman ke Kantor Gubernur Aceh melewati Jembatan Pante Pirak-Simpang Lima-Jalan Tgk Daud Beureu-eh-Jambo Tape-Lampineung.

Beberapa saat di depan Kantor Gubernur Aceh, massa kembali lagi ke titik kumpul awal di depan Masjid Raya Baiturrahman dan selanjutnya bergerak lagi ke Gedung DPRA. Ketika konvoi melewati sejumlah ruas jalan utama Kota Banda Aceh, arus lalu lintas sempat macet meski polisi telah bekerja ekstra di setiap persimpangan.

Sekitar pukul 11.30 WIB, massa yang mengklaim diri perwakilan masyarakat Aceh ini tiba di depan pintu pagar Gedung DPRA. Karena awalnya pintu pagar ditutup, massa berorasi di depan pintu pagar di bawah pengamanan polisi. “Ini aksi damai, kami hanya ingin bertemu anggota DPRA dan memasang bendera raksasa di gedung dewan ini. Bendera dan lambang Aceh adalah identitas Aceh dalam NKRI yang harus disetujui pemerintah pusat, bukan bendera untuk kepentingan politik tertentu,” teriak orator aksi, Hendra Fadli.

Orasi di atas mobil pikap dilengkapi sound system tersebut disambut teriakan ‘Allahu Akbar’ oleh massa. Tak lama kemudian, di teras Gedung DPRA tampak keluar Ketua DPRA, Hasbi Abdullah dan tiga anggota Fraksi Partai Aceh, yaitu Tgk Adnan Beuransyah, Nur Zahri, dan Tgk Harun. Polisi membuka pintu pagar dan mempersilakan massa masuk.

Ketua bersama ketiga anggota DPRA itu dinaikkan ke atas mobil pikap yang sudah dilengkapi sound system untuk menanggapi aspirasi massa. Sebagian pemuda langsung naik ke balkon bagian depan di lantai II Gedung DPRA. Di lantai dua ini, bendera Aceh raksasa dibentangkan.

Bendera Bintang Bulan ini menyelimuti sebagian Gedung DPRA bahkan bagian bawahnya menyentuh lantai bagian depan gedung. “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” begitu sambutan massa sesaat bendera ini terbentang sempurna.

Orator lainnya, Cut Falma Dahlia (53) naik ke atas mobil pikap membacakan pernyataan sikap yang mereka sebut petisi rakyat Aceh. Saat Cut Falma Dahlia membacakan petisi, seorang anak mengenakan baju loreng hitam dan memegang pistol mainan tiba-tiba diangkat ke atas mobil. Aksi ini pun menimbulkan perhatian massa.

Usai pembacaan petisi, massa bubar sekitar pukul 12.15 WIB. Mereka kembali berkonvoi mengelilingi Kota Banda Aceh membuat ibu kota provinsi kembali merah.(sal)

Mendagri: Bendera Aceh Harus Diubah
JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menilai Qanun tentang Bendera dan Lambang Aceh melanggar peraturan perundang-undangan. Untuk itu, pemerintah pusat meminta agar bendera dan lambang Aceh (yang sudah disahkan DPRA) diubah.

Menteri Dalam Negeri (Mendadgri), Gamawan Fauzi mengatakan, pihaknya telah merampungkan evaluasi Qanun Bendera dan Lambang Aceh. Evaluasi menghasilkan 12 poin. Hasil evaluasi itu akan diserahkan kepada Pemerintah Aceh dan DPR Aceh, Selasa 2 April 2013.

“PP Nomor 77 Tahun 2007 (turunan dari Undang-Undang Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh) menyatakan lambang tidak boleh menyerupai lambang separatis. Kalau ambil lambang GAM (Gerakan Aceh Merdeka), GAM kita sudah tahu (gerakan separatis). Maka kita minta koreksi,” kata Gamawan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (1/4).

Gamawan belum mau mengungkap apa saja 12 point hasil evaluasi pihaknya. Hanya saja, kata Gamawan, pihaknya sudah merinci apa saja yang dilarang dalam membuat bendera dan lambang. Dia berjanji akan menjelaskan ke publik setelah hasil evaluasi disampaikan ke Pemerintah Aceh dan DPR Aceh.

Ditanya bagaimana jika Pemerintah Aceh dan DPR Aceh tidak mau mengubah bendera dan lambang daerah, Gamawan mengatakan, jalan terakhir, Presiden bisa membatalkan qanun tersebut sesuai UU. Hanya saja, kata dia, saat ini pemerintah menginginkan hasil evaluasi itu dijalankan.

“Kita masih dengan cara-cara persuasif, menghormati Pemerintah Aceh dan DPR Aceh. Mestinya Pemerintah Aceh fokus mensejahterakan masyarakat Aceh. Jangan ada hal-hal semacam ini terjadi. Ini akan hambat percepatan mensejahterakan rakyat Aceh,” papar Gamawan.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2013/04/02/bendera-aceh-selimuti-dpra

Pos ini dipublikasikan di Bendera Aceh, Partai Aceh, Pemerintahan, Politik, Sejarah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s