Diskusi Bendera Sepakati Dua Hal


Minggu, 14 April 2013 09:25 WIB

* JK Minta Buka Ruang Dialog

JAKARTA – Pertemuan (diskusi) antara delegasi Aceh dengan Pemerintah Pusat di Hotel Arya Duta Jakarta, Sabtu (13/4) menyepakati dua hal dari 13 butir klarifikasi Mendagri terhadap Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Kesepakatan yang dicapai adalah menghilangkan azan saat menaikkan bendera Aceh dan menghapus konsideran ‘mengingat’ Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 seperti tertera pada klarifikasi nomor 2.

“Terhadap hal-hal yang belum disepakati, akan dibahas kembali dalam pertemuan lanjutan. Tempat pertemuan apakah masih di Jakarta atau di Aceh, nanti dibincangkan,” kata Dirjen Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri, Prof Djohermansyah Djohan seusai memimpin pertemuan pembahasan butir-butir klarifikasi antara Pemerintah Aceh dan DPR Aceh dengan Kementerian Dalam Negeri di Hotel Arya Duta, Jakarta, Sabtu (13/4).

Pertemuan yang berlangsung sejak sore hingga tadi malam juga dihadiri sejumlah pejabat dari kementerian terkait, anggota DPR RI asal Aceh Nasir Djamil dan Marzuki Daud, sejumlah bupati, anggota DPRA dan Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud.

Dirjen Otda optimis kemajuan akan bisa dicapai melalui serangkaian diskusi dan dialog secara terus menerus. Harapan serupa diutarakan Gubernur Aceh Zaini Abdullah, bahwa pihaknya akan melanjutkan diskusi dan dialog untuk mencapai titik temu tentang Qanun Nomor 3 Tahun 2013.

Djohermansyah mengatakan, Pusat tetap menginginkan bendera dan lambang Aceh disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang ada. “Nah ini yang akan terus dibicarakan lagi dalam pertemuan selanjutnya. Intinya kita akan terus diskusikan soal ini,” kata Djohermansyah.

Gubernur Zaini sepakat bahwa pembahasan untuk mencapai titik temu persoalan lambang dan bendera tersebut tidak dilakukan secara terburu-buru. Mengingat qanun tersebut merupakan produk dari DPRA yang di dalamnya terdapat fraksi-fraksi dari partai politik lain. “Jadi ini akan kita bahas lagi,” sebut gubernur.

Juru Bicara Kemendagri, Reydonnizar Moenek dan Asisten I Pemerintahan Aceh Iskandar A Gani meluksikan pertemuan berjalan sangat baik dan konstruktif. “Masih ada waktu sampai Juni untuk membahasa soal ini,” kata Reydonnizar tentang tenggat waktu klarifikasi.

Sebelumnya, mantan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla (JK) menyarankan Pemerintah Aceh membuka ruang dialog (diskusi) terhadap semua pihak, termasuk Pemerintah Pusat, sehubungan terjadinya kontroversi Qanun Bendera dan Lambang Aceh.

JK menyerukan itu dalam pertemuan dengan delegasi Pemerintah Aceh di Ruang Teratai Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (13/4) siang. Delegasi Aceh terdiri dari Gubernur Zaini Abdullah, Ketua DPRA Hasbi Abdullah, Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud, Peutuha Peut Partai Aceh Zakaria Saman, Asisten I Pemerintahan Aceh Dr Iskandar A Gani, dan Wakil Ketua Komisi A DPRA Nurzahri. Selain JK, pertemuan itu juga diikuti para mantan juru runding Pemerintah Indonesia, Hamid Awaludin, Sofyan A Djalil, dan Farid Husein.

JK mengingatkan, kontroversi Qanun Bendera dan Lambang Aceh bukan semata persoalan hukum melainkan telah menjadi persoalan psikologis. Karena itu perlu dibuka ruang dialog untuk meminimalisir dampak psikolgisnya.(fik)

Bintang Bulan tak Ubahnya Bendera DKI atau PSSI
KONTROVERSI Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh disikapi oleh Gubernur dan DPRA dengan dialog, termasuk dengan Pemerintah Pusat. Dalam rangkaian ‘safari’ ke Jakarta sejak Jumat (12/4), delegasi Aceh juga menemui tokoh-tokoh perdamaian MoU Helsinki di sebuah restoran di Jakarta, Sabtu (13/4).

Tokoh perdamaian Aceh yang ditemui Gubernur Zaini dan rombongan, antara lain mantan Wapres RI Jusuf Kalla (JK), Hamid Awaluddin, Farid Husein, Sofyan Djalil, dan Juha Christiansen.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama 2,5 jam itu disepakati bahwa persoalan bendera tidak akan merusak perdamaian yang telah tercipta di Aceh. “Jadi jangan ada yang berpikir masalah bendera bisa merusak perdamaian,” tegas Kalla usai pertemuan.

Kalla menyebutkan, pertemuan tersebut menyepakati bahwa NKRI tetap menjadi bagian dari perjuangan. Bendera yang saat ini dibicarakan hanya bendera wilayah yang melambangkan kebanggaan wilayah dan persatuan daerah. “Jadi bukan bendera yang mengganti merah putih, ini harus dipahami secara nasional,” ujarnya.

Kalla menambahkan, para eks pejuang GAM yang kini duduk di lembaga pemerintahan maupun DPRA juga tidak pernah menghubungkan bendera itu dengan keinginan untuk merdeka.

Bendera ini, ungkap Kalla, tak ubahnya seperti bendera DKI Jakarta, bendera Sulsel, dan bahkan bendera PSSI. “Namun bahwa kemudian ada masalah psikologinya karena dulu merupakan bendera GAM, ini memang perlu menjadi perhatian,” jelasnya.

Karena itu, Kalla memahami DPRA pun butuh enam bulan untuk mengubah aturannya. Apalagi anggota DPRA secara aklamasi termasuk partai selain Partai Aceh ikut menyetujui. “Jadi apabila perlu dievaluasi, mereka tidak bisa katakan berubah hari ini. Gubernur juga tidak bisa, Wali Nanggroe tidak boleh. Apalagi saya,” paparnya.(fik)

Siap Dialog
PEMERINTAH Aceh dan DPRA siap berdialog dengan berbagai pihak, termasuk dengan Pusat. Pertemuan dengan mantan Wapres RI Jusuf Kalla merupakan bagian dari usaha kita untuk membuka ruang dialog.

Pemerintah Aceh sepakat untuk mempertimbangkan efek paling kecil dari persoalan bendera dan lambang. Ini adalah persoalan DPRA dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan GAM, sebab proses pengambilan keputusan dilakukan di DPRA yang juga melibatkan partai politik lainnya.
* Nurzahri, Wakil Ketua Komisi A DPRA. (fik)

Turunkan Tensi
PERSOALAN bendera dan lambang Aceh harus menjadi konsen bersama dalam rangka menjaga perdamaian. Kita sarankan agar terus dikembangkan dialog soal ini. Atau kalau perlu cooling down dulu untuk menurunkan tensi.
* Marzuki Daud, Wakil Ketua Tim Pemantau Otsus Aceh dan Papua DPR RI.(fik)

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2013/04/14/diskusi-bendera-sepakati-dua-hal

Pos ini dipublikasikan di Bendera Aceh, Pemerintahan, Politik, Sejarah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s